Cerita Nadia #1

 Sakit yang Tak Berujung

Juni 2022, bulan ketika aku harus berperang melawan rasa sakit di tubuhku. Sampai aku sendiri bingung dengan sakit yang sedang aku rasakan. Pertama kali pengalaman di hidupku selama 18 tahun aku mengalami sakit dengan waktu selama itu. Rasanya aku sampai lelah untuk minum obat setiap hari dengan sakit yang tak pasti. Aku sempat berpikir apakah hidupku akan berakhir sampai di sini?

Bermula saat itu aku mengalami demam, aku yang memiliki kebiasaan mengabaikan sakit dan takut untuk periksa akhirnya mengindahkan sinyal yang masuk ke tubuhku. Aku tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Kebetulan aku sudah lulus SMA dan sudah pengumuman SBMPTN aku lolos di PBSI UNY. Berhari-hari aku mempersiapkan surat daftar ulang, bolak-balik rumah ke balai desa. Pada bulan Mei aku menjadi panitia promnight di acara kelulusan sekolahku. Kebetulan aku di rumah juga mengurusi nenek, kakek, dan budhe yang sakit struck. 

Tak terasa badanku semakin hari semakin sakit. Awalnya aku hanya minum paracetamol dan mengompres dahiku. Seminggu sudah badanku tidak ada perubahan membaik. Aku bersama kakakku memutuskan pergi ke Puskesmas. Diukur suhu tubuhku tergolong tinggi mencapai 38 derajat celcius, tapi tidak ada indikasi penyakit lainnya. Aku disarankan untuk cek darah. Cek darah sudah aku lakukan di Puskesmas, hasil yang keluar menunjukkan semua baik-baik saja. 

Waktu itu aku takut terkena Covid-19, aku tidak merasakan batuk atau tenggorokan sakit. Dokter memarahi aku karena telat periksa, harusnya 3 hari setelah demam tak kunjung sembuh segera periksa ini malah sudah 1 minggu. Obat yang diberikan aku minum, tidak ada perkembangan baik. Tiap hari tubuhku lemas dengan panas tinggi. Padahal aku sudah melakukan istirahat total di rumah. 2 minggu terhitung sakit. Orang tuaku merasa bingung dan khawatir. Tiap malam panasku tinggi, habis minum obat lumayan mereda nanti tinggi lagi. Sampai rasanya aku lelah untuk minum obat terus. Lidahku terasa hambar dan pahit ketika makan, badanku semakin mengurus

Orang tua dan kakakku berunding untuk membawa aku ke rumah sakit. Aku yang takut dengan rumah sakit awalnya menolak, takut untuk di rawat inap atau divonis Covid-19 yang waktu itu masih ada. Berat hati dan mengumpulkan nyali, aku akhirnya periksa ke rumah sakit Bagas Waras bersama kakakku. Aku masuk ke UGD dan berbaring di tempat pemeriksaan. Perawat sigap mengecek segala kondisiku, semua dalam keadaan baik-baik saja. Aku disarankan untuk check up darah kembali. Setengah jam hasil check up darah keluar dan lagi-lagi menunjukkan semua keadaan baik-baik saja. 

Kemarin aku sempat berpikir aku terkena demam berdarah atau tipes ternyata bukan keduanya. Perawat dan dokter menyarankan tidak di rawat inap, aku diperbolehkan pulang dengan membawa obat lagi dan lagi. Rasanya muak minum obat selama 2 minggu lebih ini. Demi kesembuhanku, aku tetap mengonsumsi dengan sabar dan berharap pasti akan sembuh. Dokter mengatakan, jika tak kunjung membaik aku disarankan rontgen, ditakutkan ada penyakit di organ dalam. Perkataan dokter semakin membuat aku overthinking dan sedih. Aku semangat untuk sembuh dan selalu memberikan afirmasi positif kepada diriku.

Semenjak seminggu dari rumah sakit, tiba-tiba badanku sembuh total. Aku dan keluargaku bingung tiba-tiba badanku sembuh dan tidak merasakan panas kembali. Semenjak saat itu aku bisa beraktivitas kembali dan menanamkan mindset untuk berani periksa setelah kondisi badan 3 hari dirasa tak kunjung sembuh. Belajar dari pengalaman, aku selalu takut jika badanku mulai memberikan sinyal sakit, takut akan terulang hal yang sama dan menyusahkan keluarga. Mengingatkan diriku pentingnya menjaga kesehatan, dimulai dari pola makan dan istirahat yang cukup.

Komentar