Hujan
Sore di Malioboro
Rasanya
bagi setiap wisatawan yang berpijak di Kota Pelajar ini tak lengkap kalau tak
mampir di tempat satu ini. Jika dilihat, tempat ini hanya sebuah jalan lurus
dari Tugu Jogja, terhalang palang kereta stasiun Tugu lurus ke selatan sampai
titik nol KM.Tempat ini adalah Malioboro. Malioboro yang tidak kunjung sepi,
selalu ramai pengunjung dari berbagai penjuru Indonesia bahkan turis mancanegara.
Malioboro yang selalu khas dengan alunan-alunan musik di sudut-sudut ruko di
pinggir jalan setiap malam. Malioboro yang di sepanjang jalannya penuh tukang
becak dan pak kusir berjejeran berlomba-lomba mengais rejeki.
Sore
itu hujan deras mengguyur kawasan malioboro, bertepatan saat sedang berkunjung
di teras malioboro 2. Mengantar kakak yang datang jauh dari Palembang bersama
putri kecilnya yang cantik nan menggemaskan. Tidak lupa menyempatkan foto di
depan tulisan teras malioboro 2 dengan payung biru yang dipegang kakak. Teras
malioboro sangat ramai pengunjung yang berbelanja sekaligus numpang berteduh.
Teras malioboro 2 terletak di sebelah timur jalan malioboro. Turis lokal maupun
mancanegara berseliweran menenteng kantong belanja. Bagi mereka, ada yang
kurang jika tidak membeli oleh-oleh saat berkunjung di malioboro. Oleh-oleh
yang dibeli berupa bakpia, baju, sandal, aksesoris, celana, dan lain-lain. Saat
ini, pedagang kaki lima dan penjual oleh-oleh makanan maupun barang lebih
ditertibkan oleh pemerintah dengan dibangunnya teras malioboro. Dahulu sebelum
dibangun teras malioboro 1 dan 2, para pedagang dengan bebas menjual
dagangannya di sepanjang depan ruko-ruko dan trotoar Malioboro.
Hujan
mereda, kakiku melangkah keluar dari kawasan teras malioboro 2 menuju kursi di
trotoar Malioboro. Aku duduk di salah satu kursi yang kemudian di sambut oleh tetesan
air dari pepohonan sisa hujan berjatuhan ke tubuhku. Angin berhembus dengan
perlahan membawa kedinginan menembus kulit. Pepohonan yang hijau dan asri
melambai-lambai terkena angin, semakin menambah syahdu suasana malioboro. Pohon
beringin yang besar dengan akarnya yang terlihat menjuntai ke bawah tidak
membuat kesan mistis dari malioboro, justru terlihat indah.
Hiruk-piruk
kendaraan mobil dan motor entah itu wisatawan maupun masyarakat asli Yogyakarta
dengan segala perannya masing-masing. Ada yang pulang kerja, pulang sekolah,
pulang kuliah, atau bahkan sekedar keluar rumah untuk hujan-hujan. Jalan di
Malioboro hanya satu arah, aku menyebutnya ke arah Selatan. Langit masih
berwarna abu-abu, pertanda hujan masih akan datang lagi. Para pengendara motor
terlihat memakai jas hujan dan dengan sabar mengantri kemacetan.
.
Malioboro sore itu tidak seramai hari-hari biasanya, sangat mendukung untuk
sekedar duduk merenungi hidup. Kursi-kursi dan keramik berbentuk bulat telur di
sepanjang trotoar Malioboro banyak yang kosong karena hujan baru saja reda.
Hanya terlihat beberapa wisatawan yang berswafoto di papan penunjuk jalan.
Biasanya para pengamen dan pedagang siomay terlihat mondar-mandir di trotoar.
Karena hujan baru reda menyebabkan mereka masih berteduh. Trotoar terlihat
licin dengan banyaknya air yang menggenang, namun trotoar terlihat bersih tanpa
ada sampah yang berceceran. Para wisatawan berjalan dengan hati-hati supaya tidak
terpeleset dan beberapa wisatawan masih menggunakan payung meski hujan sudah
mereda.
Bagi
masyarakat asli Daerah Istimewa Yogyakarta mungkin berpikir bahwa Malioboro
hanya seperti itu-itu saja. Lain hal dengan para turis, berkunjung ke Malioboro
merupakan sebuah keharusan bagi mereka, meski hanya sekedar lewat dan berfoto.
Bagi aku, Malioboro memang selalu menjadi candu. Sering sekali hanya
bermodalkan uang Rp 3000 untuk parkir, aku berkunjung ke Malioboro sendirian.
Sekedar duduk melihat jalan dengan kendaraan berlalu-lalang diiringi musik yang
melantun di telinga.
Komentar
Posting Komentar