Tentang Suatu Tempat #1

 

Hujan Sore di Malioboro

Rasanya bagi setiap wisatawan yang berpijak di Kota Pelajar ini tak lengkap kalau tak mampir di tempat satu ini. Jika dilihat, tempat ini hanya sebuah jalan lurus dari Tugu Jogja, terhalang palang kereta stasiun Tugu lurus ke selatan sampai titik nol KM.Tempat ini adalah Malioboro. Malioboro yang tidak kunjung sepi, selalu ramai pengunjung dari berbagai penjuru Indonesia bahkan turis mancanegara. Malioboro yang selalu khas dengan alunan-alunan musik di sudut-sudut ruko di pinggir jalan setiap malam. Malioboro yang di sepanjang jalannya penuh tukang becak dan pak kusir berjejeran berlomba-lomba mengais rejeki.


Sore itu hujan deras mengguyur kawasan malioboro, bertepatan saat sedang berkunjung di teras malioboro 2. Mengantar kakak yang datang jauh dari Palembang bersama putri kecilnya yang cantik nan menggemaskan. Tidak lupa menyempatkan foto di depan tulisan teras malioboro 2 dengan payung biru yang dipegang kakak. Teras malioboro sangat ramai pengunjung yang berbelanja sekaligus numpang berteduh. Teras malioboro 2 terletak di sebelah timur jalan malioboro. Turis lokal maupun mancanegara berseliweran menenteng kantong belanja. Bagi mereka, ada yang kurang jika tidak membeli oleh-oleh saat berkunjung di malioboro. Oleh-oleh yang dibeli berupa bakpia, baju, sandal, aksesoris, celana, dan lain-lain. Saat ini, pedagang kaki lima dan penjual oleh-oleh makanan maupun barang lebih ditertibkan oleh pemerintah dengan dibangunnya teras malioboro. Dahulu sebelum dibangun teras malioboro 1 dan 2, para pedagang dengan bebas menjual dagangannya di sepanjang depan ruko-ruko dan trotoar Malioboro.

Hujan mereda, kakiku melangkah keluar dari kawasan teras malioboro 2 menuju kursi di trotoar Malioboro. Aku duduk di salah satu kursi yang kemudian di sambut oleh tetesan air dari pepohonan sisa hujan berjatuhan ke tubuhku. Angin berhembus dengan perlahan membawa kedinginan menembus kulit. Pepohonan yang hijau dan asri melambai-lambai terkena angin, semakin menambah syahdu suasana malioboro. Pohon beringin yang besar dengan akarnya yang terlihat menjuntai ke bawah tidak membuat kesan mistis dari malioboro, justru terlihat indah.

Hiruk-piruk kendaraan mobil dan motor entah itu wisatawan maupun masyarakat asli Yogyakarta dengan segala perannya masing-masing. Ada yang pulang kerja, pulang sekolah, pulang kuliah, atau bahkan sekedar keluar rumah untuk hujan-hujan. Jalan di Malioboro hanya satu arah, aku menyebutnya ke arah Selatan. Langit masih berwarna abu-abu, pertanda hujan masih akan datang lagi. Para pengendara motor terlihat memakai jas hujan dan dengan sabar mengantri kemacetan.

. Malioboro sore itu tidak seramai hari-hari biasanya, sangat mendukung untuk sekedar duduk merenungi hidup. Kursi-kursi dan keramik berbentuk bulat telur di sepanjang trotoar Malioboro banyak yang kosong karena hujan baru saja reda. Hanya terlihat beberapa wisatawan yang berswafoto di papan penunjuk jalan. Biasanya para pengamen dan pedagang siomay terlihat mondar-mandir di trotoar. Karena hujan baru reda menyebabkan mereka masih berteduh. Trotoar terlihat licin dengan banyaknya air yang menggenang, namun trotoar terlihat bersih tanpa ada sampah yang berceceran. Para wisatawan berjalan dengan hati-hati supaya tidak terpeleset dan beberapa wisatawan masih menggunakan payung meski hujan sudah mereda.

Bagi masyarakat asli Daerah Istimewa Yogyakarta mungkin berpikir bahwa Malioboro hanya seperti itu-itu saja. Lain hal dengan para turis, berkunjung ke Malioboro merupakan sebuah keharusan bagi mereka, meski hanya sekedar lewat dan berfoto. Bagi aku, Malioboro memang selalu menjadi candu. Sering sekali hanya bermodalkan uang Rp 3000 untuk parkir, aku berkunjung ke Malioboro sendirian. Sekedar duduk melihat jalan dengan kendaraan berlalu-lalang diiringi musik yang melantun di telinga.

Komentar